Mahasiswa dari Asia Pasifik dan Timur Tengah telah menaklukkan jalanan Luneta Park, Manila dengan mencatat lima rekor jarak tempuh baru di sirkuit jalanan Shell Eco-marathon Asia. Tim ITS 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Indonesia, berhasil mencetak rekor jarak dobel dari jarak tempuh pemenang tahun lalu dalam kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel, yaitu 152.7km/l. Sedangkan Tim Batavia Generation dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mendapatkan peringkat ke-3 untuk kategori Prototype Shell FuelSave Gasoline, dengan jarak tempuh 485.4km/l, atau setara dengan jarak dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, tim mahasiswa Indonesia unggul dalam kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel dengan meraih peringkat 1, 2, dan 3. Peringkat ke-2 kategori UrbanConcept Shell FuelSave Diesel adalah tim Cikal Diesel dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil menempuh jarak 136.9km/l, dan peringkat ke-3 diraih oleh Tim Bengawan 2 dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan rekor jarak tempuh 99.2km/l.

Sementara itu pada kategori UrbanConcept Shell FuelSave alternative fuel, penghargaan diraih oleh dua tim Indonesia yakni Tim Horas Mesin Universitas Sumatra Utara (USU) dengan kendaraan berbahan etanol yang berhasil menjadi juara ke-2 dengan rekor jarak tempuh 134.7km/l; dan Tim IST Akprind 1 dari Institut Sains & Teknologi AKPRIND pada peringkat ke-3 dengan mengusung kendaraan berbahan bakar etanol yang mencapai jarak tempuh 89km/l.

“Kami bangga sekali dengan prestasi tim mahasiswa Indonesia dalam kompetisi ini. Mulai dari proses seleksi awal hingga mereka bisa berkompetisi dan menjadi juara di Manila merupakan suatu perjalanan yang luar biasa. Kendaraan yang mereka rancang dengan memikirkan inovasi terhadap penggunaan bahan bakar, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan oleh negara-negara lain. Semangat para adik-adik mahasiswa baik yang menang ataupun yang belum beruntung patut kita hargai karena mereka hebat dan telah menunjukkan kepedulian mereka terhadap energi masa depan,” demikian disampaikan Darwin Silalahi, Presiden Direktur dan Country Chairman Shell Indonesia. “Shell sangat senang dapat  mendorong dan memotivasi para talenta muda ini untuk menyumbangkan ilmu dan bakat yang mereka miliki dalam mengharumkan nama Indonesia pada kompetisi internasional seperti ini,” tambah Darwin.

Rizaldy Hakim Ash Shiddieqy, Tim Manager ITS Team 2 yang sekaligus merupakan juara bertahan SEM Asia sejak 2011 mengatakan, “Prestasi ini berkat kerja tim yang solid, dukungan dari para dosen kami yang memberikan motivasi terus menerus dan bimbingan. Tantangan kami di ajang SEM kali ini lebih kepada lintasan. Tahun lalu lintasan aspal semua rata dan sekarang ini terdapat paving garis dan mobil harus stabil untuk mengejar efisiensi bahan bakar. Kami mau mengembangkan lagi  Sapu Angin Diesel ini karena target kami adalah 300 km/liter.”

Juara kedua untuk kategori UrbanConcept Shell FuelSave alternative fuel (etanol), Tim Horas Mesin dari Universitas Sumatra Utara (USU) turut menyampaikan kegembiraan mereka, “Usaha kami sudah maksimal dan kami bersyukur. Ke depannya, kami akan melakukan perubahan mesin dan tetap menggunakan kendaraan yang sekarang; serta melakukan perbaikan mesin, peningkatan kemampuan mengemudi, dan penguasaan lapangan” ungkap Arie Matius Bangun, Tim Manager Horas Mesin USU.

Pemenang tahun ini mengalahkan lebih dari 120 tim mahasiswa dari 17 negara di Asia dan Timur Tengah – termasuk tim mahasiswa baru dari Australia, Bangladesh, Oman dan Arab Saudi. Para tim peserta mengusung kendaraan dalam salah satu kategori Urban Concept atau Prototype dengan salah satu dari tujuh jenis energi yang berbeda. Hasil akhir diukur dari tim mana yang dapat menempuh jarak terjauh dengan menggunakan bahan bakar setara dengan 1 kWh listrik, 1 m3 hidrogen atau 1 liter bahan bakar.

"Saya bangga melihat lebih banyak tim dan lebih banyak negara bergabung dengan keluarga Shell Eco-marathon tahun ini. Hal tersebut sangat mengesankan melihat anggota baru yang baru berpartisipasi dari negara-negara seperti Australia, Arab Saudi, Oman dan Bangladesh yang telah berusaha dan mencatat hasil di tahun pertama mereka. Saya berharap untuk menyambut lebih banyak pendatang baru di kompetisi berikutnya, "kata Norman Koch, Shell Eco-marathon Technical Director.

Enam Penghargaan Off-Track Dipersembahkan kepada Tim-Tim Mahasiswa Terbaik

Selain 10 penghargaan On-Track, tim juga berkompetisi untuk enam penghargaan Off-Track yang menguji berbagai keterampilan teknis dan kreatif tim, serta pendekatan mereka untuk keselamatan dan keberlanjutan. Sebuah panel ahli dari berbagai bidang menilai siswa pada berbagai kategori yang meliputi keselamatan, Komunikasi, Inovasi Teknis, Kendaraan Desain, Ketekunan dan Semangat Berkompetisi dan Shell Helix Tribology Award. Shell Helix Tribology Award merupakan penghargaan off-track yang memberikan penghargaan kepada tim mahasiswa yang menunjukkan penggunaan prinsip-prinsip rekayasa pelumasan untuk meningkatkan hasil efisiensi bahan bakar kendaraan mereka.

Penghargaan “Ketekunan dan Semangat Berkompetisi" dihadiahkan ke Tim Alfaisal dari Alfaisal University of Saudi Arabia, yang menunjukkan ketahanan besar meskipun keterlambatan dalam menerima mobil mereka di sirkuit. Meskipun waktu yang berharga hilang, tidak menghentikan mereka untuk berbagi bahan dan sumber daya mereka untuk tim tetangga. Mereka menyumbangkan mesin cadangan mereka untuk tim Filipina yang sedang berkompetisi ketika mesin mereka tiba-tiba rusak.

Shell Eco-marathon adalah mengenai bagaimana menginspirasi generasi muda dalam menciptakan solusi untuk masa depan. Inovasi ini akan membantu kita melihat mobilitas cerdas, dan mengeksplorasi bahan bakar jenis baru yang dapat lebih berkelanjutan.

Shell Eco-marathon Asia 2015 diselenggarakan melalui kerja sama dengan Kementerian Pariwisata Pemerintah Filipina dan Kota Manila. Mitra Global dari Shell Eco-marathon 2015 mencakup HP (Official Global Information Technology [IT] Partner), Michelin (Official Global Paddock Partner and Tyre Supplier), The Linde Group (Official Global Paddock Partner) dan Southwest Research Institute (Official Global Paddock Partner). Sedangkan mitra dari sektor swasta setempat adalah Unilever Philippines, Solane, Coca-Cola, Globe dan Hyundai.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai semua acara Shell Eco-marathon di seluruh penjuru dunia, termasuk peraturan resmi, instruksi untuk pendaftaran dan detil hadiah, silakan kunjungi situs Shell Eco-marathon di www.shell.com/ecomarathon.

Untuk mengakses foto-foto kegiatan, kunjungi tautan berikut:https://www.flickr.com/photos/shell_eco-marathon/

Mengenai Shell Eco-marathon

Shell Eco-marathon pertama kali diselenggarakan pada 1939 di laboratorium penelitian Shell di Amerika Serikat sebagai pertandingan persahabatan antar ilmuwan untuk mengetahui siapa yang dapat menempuh jarak terjauh dengan segalon bahan bakar pada kendaraannya. Pemenang lomba ketika itu hanya mampu menempuh jarak 50 mpg (21 km/l), dan dari sejarahnya yang sederhana ini, pertandingan persahabatan tersebut berkembang menjadi kompetisi yang dikelola dengan lebih rapi.

Pada 1985, di Prancis, lahirlah Shell Eco-marathon seperti yang kita kenal saat ini. Pada April 2007, Shell Eco-marathon Americas diselenggarakan di Amerika Serikat, dan pada 2010, pembukaan Shell Eco-marathon Asia diselenggarakan di Malaysia. Malaysia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Shell Eco-Marathon Asia sampai dengan 2013. Sejak 2014, Manila, Filipina, menjadi tuan rumah penyelenggaraan kompetisi ini, dan akan terus menyelenggarakannya sampai dengan 2016.