Untuk memahami lebih lanjut tentang rasio likuiditas, manfaat, jenis, hingga cara menghitungnya, simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Rasio Likuiditas Perusahaan

Rasio likuiditas merupakan suatu pengukuran terhadap kemampuan aset perusahaan untuk membiayai kewajiban atau utang jangka pendeknya.[1]

Tujuan rasio likuiditas adalah untuk mengukur mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban yang segera jatuh tempo atau pada saat ditagih. Semakin tinggi nilai rasio likuiditas, semakin baik kemampuan sebuah perusahaan membayar utang jangka pendeknya alias utang tersebut lancar.

Manfaat Analisis Rasio Likuiditas Perusahaan

Bagi pengusaha yang memahami dan bisa melakukan analisis rasio likuiditas, berikut beberapa manfaatnya[2]:

  1. Pengusaha dapat mengantisipasi dana yang diperlukan saat muncul kebutuhan yang mendesak.
  2. Pengusaha dapat mempermudah para nasabah yang ingin melakukan penarikan dana.
  3. Rasio likuiditas menjadi poin penentu bagi sebuah perusahaan untuk mendapatkan persetujuan investasi atau bisnis lain yang menjanjikan.

Dengan memahami rasio likuiditas ini, perusahaan diharapkan dapat membuat analisis terhadap utang dan aset yang dimilikinya.

Pentingnya Rasio Likuiditas Bagi Perusahaan[3][4]

Seperti disebutkan di atas, rasio likuiditas berguna untuk menentukan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya.

Kemudian, rasio likuiditas berperan vital untuk menentukan kelayakan kredit yang dilakukan pemberi pinjaman. Rasio likuiditas juga krusial bagi investor untuk mengetahui kondisi keuangan suatu bisnis sehingga layak mendapatkan investasi atau tidak. Sebagai contoh, perusahaan perlu memiliki kelonggaran dana untuk menyelesaikan tagihan-tagihan jangka pendek. Sebab, rendahnya liquidity ratio akan memunculkan red flag.

Jenis, Rumus, dan Cara Menghitung Likuiditas

Berikut adalah tiga jenis rasio likuiditas yang paling umum digunakan dalam sebuah perusahaan[5][6].

1. Current Ratio (Rasio Lancar)

Current ratio atau rasio lancar adalah rasio likuiditas paling sederhana yang dipakai untuk mengukur kemampuan perusahaan melunasi kewajiban lancarnya (dibayar dalam satu tahun) dengan total aset lancarnya, seperti kas, piutang, dan persediaan.

Baris aset lancar dan kewajiban lancar bisa ditemukan pada neraca perusahaan. Rasio likuiditas ini dapat dihitung dengan cara membagi aset lancar dengan kewajiban lancar.

Rumus current ratio:

Aset lancar / kewajiban lancar = Rasio Lancar

2. Quick Ratio (Rasio Cepat)

Quick ratio atau rasio cepat adalah rasio yang digunakan untuk menentukan kemampuan perusahaan dapat melunasi kewajiban lancarnya dengan aset cepat atau aset yang paling likuid. Untuk diketahui, aset cepat adalah aset lancar yang dapat dikonversi menjadi uang tunai dalam waktu 90 hari.

Rumus Quick Ratio:

Rasio cepat = (Uang tunai + piutang + surat berharga) / kewajiban lancar

atau

(Aset lancar - inventaris - biaya dibayar di muka) / kewajiban lancar = rasio cepat

3. Cash Ratio (Rasio Kas)

Cash ratio atau rasio kas rasio dihitung dengan membandingkan cashflow dengan tagihan yang saat ini harus dibayar. Cash Flow adalah uang tunai yang dimiliki perusahaan atau setara kas, yaitu surat berharga, tagihan treasury, dan lainnya.

Rumus Cash Ratio:

Rasio kas = (Uang tunai + surat berharga) / kewajiban lancar

Menjaga Rasio Likuiditas dengan Manajemen Aset yang Baik

Salah satu cara mendapatkan rasio likuiditas yang baik adalah dengan melakukan manajemen aset. Salah satu manajemen aset yang bisa Anda gunakan adalah Shell Fleet Card.

Shell Fleet Card memungkinkan Anda melakukan efisiensi bahan bakar. Sehingga setiap armada yang dimiliki perusahaan lebih hemat bensin dari sebelumnya.

Shell Fleet Card merupakan cara untuk melakukan efisiensi biaya operasional karena perusahaan dapat dengan mudah mengontrol anggaran bahan bakar, mengalokasikan dana, menganalisis transaksi bahan bakar, meminimalkan waktu administrasi, mengurangi kelalaian pegawai dalam proses pelaporan dan banyak hal lain.

Untuk memahami praktik rasio likuiditas lebih detail dan informasi lengkap Shell Fleet Card, Anda dapat mempelajarinya melalui laman resmi Shell Indonesia atau berhubungan dengan representative Shell Indonesia.

Baca Artikel Terbaru Kami

Bagaimana Cara Kerja RFID & Apa Saja Jenisnya?

Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) bisa meningkatkan performa perusahaan manufaktur. Berikut penjelasannya!

5 Cara Tepat Menghitung Efisiensi Bahan Bakar Kendaraan Operasional

Efisiensi bahan bakar adalah kemampuan menggunakan bahan bakar agar tidak menghabiskan banyak biaya. Cek cara dan rumus menghitung konsumsi bahan bakar di sini.

5 Manfaat Real Time Monitoring pada Bisnis Anda

Real Time Monitoring jadi cara efisien memantau operasional. Shell Fleet Card jadi implementasi Real Time Monitoring yang bermanfaat untuk bisnis Anda.

Memahami Asset Tracking dan Manfaat Penerapannya

Asset tracking adalah salah satu metode yang digunakan untuk menelusuri aktiva tetap atau aset fisik. Apa manfaatnya?